Kenapa kita merasa perlu mengadakan Hari Game Indonesia? Inilah yang pertama kali terlintas di benak saya ketika mendapat kabar via timeline Facebook bahwa pemerintah akan mencanangkan 8 Agustus sebagai Hari Game Indonesia (yang diberi akronim HARGAI). Saat saya pertama kali mengunjungi situs resminya (tertanggal 25 Juli), ada dua action call: Satu untuk “Daftar” yang kemudian membawa kita ke laman lain yang menjelaskan mengenai apa HARGAI ini dan bagaimana caranya kita bisa berpartisipasi. Satu lagi adalah “Dukung” yang membawa kita ke situs Twibbon untuk menempeli avatar kita di media sosial dengan plester “Hari Game Indonesia”.

Dari laman “Daftar” itu saya baru tahu bahwa HARGAI sesungguhnya digagas oleh Asosiasi Game Indonesia (AGI), asosiasi tempat para pelaku industri game di Indonesia berkumpul untuk berjejaring dan berkomunikasi dengan pemerintah. Berbicara tentang pemerintah, HARGAI ini juga didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), dan Kementerian Perindustrian. Dan dari apa yang saya baca-baca di TechInAsia, tampaknya yang pertama kali mengusulkan akan adanya HARGAI ini adalah dari pihak pemerintah: Menkominfo Rudiantara.

Ketika mendengar ada event seperti HARGAI ini, saya pertamanya cukup optimis: Apakah ini artinya industri game mulai diperhatikan dengan serius oleh pemerintah? Apakah komunitas gamer akan lebih didengar aspirasi dan keluh kesahnya oleh para pemangku kepentingan? Lebih lagi, apakah video game akan mendapat legitimasi sebagai produk seni budaya kreatif seperti halnya buku, musik, atau film?

Paragraf pertama dan kedua di laman “Daftar” itu cukup mengangkat hati. Baiknya saya kutip saja keduanya di bawah ini:

Hari Game Indonesia (HARGAI) merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Game Indonesia (AGI) setiap tanggal 8 Agustus untuk mewadahi pelaku industi game, gamers hingga masyarakat di Indonesia untuk dapat berpartisipasi mendukung dan mendorong industri game sebagai salah satu kegiatan positif.

Asosiasi Game Indonesia (AGI) ingin mengajak kita semua bersama-sama untuk membentuk HARI GAME INDONESIA (HARGAI) yang tujuannya adalah untuk memberikan penghargaan kepada masyarakat Indonesia yang telah mendukung industri game di Indonesia selama ini. Dan kami juga harapkan masyarakat Indonesia terus mendukung dan menghargai game-game di Indonesia.

Oh my. Kedengarannya mulia dan partisipatif sekali bukan? Mendorong industri game sebagai salah satu kegiatan positif. Memberikan penghargaan bagi masyarakat karena telah mendukung industri game di Indonesia selama ini. Semuanya terdengar membanggakan karena hobi yang dianggap buang-buang waktu dan merusak nilai sekolah ini kini disanjung-sanjung dan ditempatkan di atas podium dengan karangan bunga.

Tapi semakin saya membaca ke bawah, hati saya semakin mencelos. Ini saya kutip paragraf ketiganya.

Hari Game Indonesia diprakarsai oleh AGI (Asosiasi Game Indonesia) dan didukung oleh Kemkominfo, Kementerian Perindustrian, Badan Ekonomi Kreatif, beserta Google Play. Hari Game Indonesia merangkul semua elemen industri game tanah air yaitu: pengembang, penerbit, solusi pembayaran, boardgame, dan media.

Wait, what? Saya kira tadinya saya salah baca. Ke mana aura inklusif yang tadi berpendar di paragraf pertama dan kedua? Kenapa komunitas gamer, konsumen game, dan masyarakat non-gamer tidak ikut dirangkul dalam HARGAI? Tadinya saya pikir ini hanya penyampaian ide yang meleset saja. Tapi paragraf-paragraf berikutnya membuktikan bahwa kecurigaan saya tidak jauh dari kenyataan.

Tata Cara Partisipasi Event Hari Game Indonesia:

  • Peserta wajib berbasis di Indonesia
  • Jumlah produk (game, voucher, pambayaran, peripheral game) yang didaftarkan pada event ini tidak dibatasi
  • Membuat halaman khusus (landing page) Hari Game Indonesia pada situs perusahaan/studio game yang didaftarkan, dengan format: http://www.namawebpeserta.com/harigameindonesia
  • Wajib menampilkan logo Hari Game Indonesia pada header dan footer landing page, yang disambungkan ke situs: https://www.harigameindonesia.com
  • Logo Hari Game Indonesia dapat diunduh di sini
  • Event Hari Game Indonesia dimulai pada tanggal 8 Agustus 2016 dengan waktu berakhir yang ditentukan oleh masing-masing peserta (bebas)
  • Wajib mempromosikan event Hari Game Indonesia di situs perusahaan/studio game, jejaring sosial, dan pengumuman di dalam game

Goddammit, AGI! Jadi inikah bentuk kepesertaan saya sebagai gamer: Konsumen promo diskon? Tak ada seminar mengenai sejarah game di dunia dan Indonesia? Tak ada lokakarya membuat game sederhana bagi anak-anak dan pemula? Sosialisasi mengenai Indonesian Game Rating System? Diskusi mengenai manfaat game bagi orang tua dan pendidik? Kompetisi e-sports nasional? Atau bahkan sekedar kopdar akbar bagi komunitas gamer seperti Pesta Blogger dulu?

Saya harap mereka punya acara lain – yang bukan konferensi pers – yang tak kalah signifikannya bagi HARGAI dibanding partisipasi berupa promo diskon. Tak harus enam-enamnya jenis acara yang saya sebut di atas itu dipenuhi; Satu atau dua saja sudah cukup untuk perayaan pertama ini. Semoga saja mereka belum sempat menuliskannya hanya karena tanggal, tempat, atau pembicara yang masih tentatif. Atau mereka entah kenapa merasa adalah ide yang bagus untuk merahasiakan semua acara lainnya sampai menjelang hari-H. (Protip: It’s not)

Sebab kalau sampai 8 Agustus nanti satu-satunya kepala berita yang terkait dengan ini adalah betapa gencarnya produk-produk game Indonesia banting harga, apa bedanya HARGAI dengan perayaan kapitalisme bernama Hari Belanja Online Nasional? Apa lebihnya HARGAI yang didukung asosiasi dan pemerintah dibanding Indonesia Indie Game Festival yang acaranya lebih variatif dan inklusif? Bahkan para pengembang indie dari Jogja ini sejak 2 bulan sebelum acaranya berlangsung sudah membuat pengumuman yang jauh lebih komprehensif dibanding apa yang dilakukan AGI untuk acara yang tinggal 2 minggu lagi.

Jogja indie devs: You’re awesome. (klik untuk melihat lebih jelas)

Sekali lagi: Mudah-mudahan saya salah. Saya malah lebih senang bila saya bisa dibuktikan salah (the perks of being a cynical bastard), karena artinya HARGAI ini digarap dengan sungguh-sungguh dan bukan sekedar basa-basi spontan seperti ketika dulu di tahun 2007 Menkominfo M. Nur mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional. Setidaknya kesalahan AGI ‘hanya’ menjadi kesalahan pemasaran dan kehumasan karena informasi mengenai acaranya tidak sampai dengan utuh ke masyarakat sampai mepet tenggat, padahal acara berskala nasional mestinya butuh hype yang luar biasa dan berkelanjutan sampai hari-H kalau memang niatnya mau dirayakan besar-besaran.

Jika kecemasan saya ternyata benar, well… saya sangat menyayangkan AGI karena menyia-nyiakan momentum perdana yang bagus ini. Saya tidak anti dengan promosi produk-produk nasional, tapi HARGAI seharusnya bisa sekaligus menjadi perayaan sosial dan kultural – bukan sekedar perkara komersial. Kalau sampai AGI ternyata memang senaif itu sampai tidak memikirkan soal ini sebelumnya, ya mungkin niat mereka dalam menghargai gamer Indonesia baru sebatas berapa banyak duit yang bisa dipanen saja.

Update: Hari Senin, tanggal 1 Agustus ini situs HARGAI diperbarui dengan info yang lebih ‘lengkap’. Seperti yang sudah saya takutkan, dari 29 item di laman event dan promo-nya, sebagian besar adalah diskon yang diberikan penerbit game online, pengembang game kasual free-to-play untuk mobile, penyedia jasa in-game currency, atau toko konsol eceran. Sudah diduga sebelumnya, tapi saya masih tetap agak sedih karena ternyata level penghargaannya memang cuma sampai segitu saja. Semoga HARGAI di tahun depan bisa lebih baik dari tahun ini, dan itu mestinya bukan standar yang sukar dicapai.

Ilustrasi: Hari Game Indonesia

Iklan