Tak ada yang menduga Shigeru Miyamoto sendiri akan hadir dalam acara Apple tanggal 7 September yang lalu. Di tengah-tengah peluncuran iPhone terbaru, petinggi Nintendo itu muncul untuk mengumumkan game pertama mereka untuk iOS: Super Mario Run. Maka riuhlah komentar para gamer di seantero internet. Gamer kasual yang sudah meninggalkan konsol dan beralih ke iOS sih tampaknya hepi-hepi saja kini bisa memainkan game Mario bikinan Nintendo di iPhone atau iPad mereka.

Yang lebih seru ditonton tentu saja adalah segelintir fans konsol garis lurus yang sangat vokal. Fans Sony atau Microsoft seolah mendapat amunisi baru untuk mengejek Nintendo yang dianggap semakin ‘jual murah’  karena putus asa WiiU tak mampu bersaing melawan PS4 dan Xbox One. Kalau mereka juga punya ponsel atau tablet Apple, mereka juga ikut senang karena kini bisa menikmati Mario tanpa harus membeli konsol atau handheld Nintendo.

Sebaliknya, sebagian fans Nintendo merasa dikhianati. Dengan kondisi hardware Nintendo yang secara teknis kalah kelas dibanding hardware milik Sony atau Microsoft, game yang bersifat eksklusif adalah satu dari sedikit hal yang bisa mereka banggakan. Dan senjata unggulannya, tentu saja, adalah game-game bikinan Nintendo sendiri. Sejak zaman NES, kalau ingin memainkan Super Mario Bros, Legend of Zelda, Mario Kart, atau Metroid, ya cuma ada di WiiU atau 3DS. Apalagi petinggi Nintendo sejak zaman Yamauchi hingga Iwata sudah berkali-kali menegaskan bahwa game Nintendo hanya akan hadir di perangkat Nintendo.

Maka kemunculan Mario di platform lain -setelah sebelumnya dipelopori Pokemon Go– semakin menambah kecemasan para fans. Senjata unggulan mereka kini semakin tidak bisa diandalkan. Memang Super Mario Run ini ‘hanya’ sebuah game runner yang tidak selengkap game Super Mario pada umumnya. Tapi jika Super Mario Run bisa mengikuti jejak kesuksesan Pokemon Go, siapa yang bisa menjamin Nintendo tidak akan tergiur dan berusaha menggarap pasar game mobile dengan lebih serius? Di mata fans yang panik, mungkin mereka hanya tinggal menunggu waktu sebelum Legend of Zelda atau Mario Kart muncul di konsol terbaru Sony atau Microsoft.

Sebenarnya ini bukan reaksi yang baru atau khusus terjadi pada fans Nintendo saja. Hal yang sama juga terjadi di tahun 2008 pada fans Final Fantasy ketika FF XIII -setelah 5 game FF sebelumnya untuk konsol dirilis secara eksklusif di Playstation- turut dirilis di platform Xbox. Beberapa fans meradang dan merasa ‘tertipu’ karena alasan utama mereka membeli PS3 (yang waktu itu harganya masih cukup mahal dan katalognya relatif tidak seluas Xbox 360) adalah untuk menunggu game terbaru FF dirilis di situ. Tindakan Square-Enix itu menyusul beberapa penerbit lain yang -setelah dikira akan rilis eksklusif di PS3- akhirnya memutuskan untuk rilis di dua platform secara bersamaan.

Kalau dipikir-pikir dengan lebih obyektif, sebenarnya tidak ada alasan bagi para fans tersebut untuk sebegitu gusarnya. Ini bukan masalah perpindahan eksklusivitas seperti FF VII yang ‘bedol desa’ ke konsol Playstation atau Dragon Quest IX yang malah jadi eksklusif untuk handheld Nintendo DS. Para fans Playstation tetap bisa menikmati FF XIII sama baiknya seperti para pemilik Xbox 360; Jika nantinya Legend of Zelda juga muncul di konsol milik Sony atau Microsoft, saya yakin para fans lama Zelda juga tetap bisa enjoy memainkan mahakarya Nintendo ini di konsol Nintendo terbaru.

Meski ya, kalau dipikir-pikir lagi, memang sulit untuk obyektif dengan kepemilikan konsol ini. Kecuali kita (atau orangtua) punya cukup uang untuk membeli semua konsol, memilih satu konsol saja untuk dimainkan selama 5 atau 6 tahun ke depan adalah sebentuk komitmen jangka menengah. Maka kitapun mempertimbangkan masak-masak setiap fiturnya, termasuk -tentu saja- game-game apa saja yang hanya akan dirilis di konsol tersebut. Kalau pertimbangan yang diproritaskan paling atas adalah game-game eksklusif, bisa dipahami jadinya rasa kekesalan yang timbul ketika landasan pertimbangan itu kemudian satu persatu runtuh.

Tapi geli juga rasanya melihat sejumlah pemilik konsol tampaknya benar-benar serius mempertahankan konsol pilihannya. Memilih satu konsol bukan lagi hanya sekedar keputusan pragmatis, melainkan sudah menjadi keputusan ideologis; Memilih PS4 berarti, misalnya, mendukung kemajuan teknologi, sementara memilih WiiU berarti mendukung kreativitas yang out of the box. Konsol pilihan menjadi bagian dari identitas diri, sehingga harus dipupuk rasa percaya dirinya (salah satunya dengan mengecilkan konsol pilihan orang lain) dan dipertahankan dari berbagai kritikan.

Tak heran melihat mereka kemudian secara personal merasa ditusuk dari belakang oleh pengembang dan penerbit ketika sebuah game eksklusif jadi game multiplatform. Saya sih makan popcorn saja, karena seringkali amarah meledak-ledak dari orang-orang semacam ini  bisa menghasilkan meme yang cringey tapi kocak.

Ilustrasi: Uncrate.com

Iklan