Beberapa minggu lalu Nintendo menunjukkan pada publik seperti apa konsol mereka berikutnya. Dinamai Nintendo Switch, konsol terbaru Nintendo ini adalah konsol hybrid; Istirahatkan dia di dock-nya di rumah, dan kita akan bermain game seperti biasa di layar TV. Switch baru menunjukkan keistimewaannya begitu diambil dari dock: Ia memiliki layarnya sendiri, dan controller Switch bisa dipasangkan pula di sisi samping sehingga Switch kini menjelma menjadi sebuah handheld-slash-tablet yang bisa dimainkan di manapun.

Masih ada beberapa fitur lain dari Switch yang digambarkan di video pengenalan singkat yang saya tautkan di atas (Nintendo sudah menjanjikan penjabaran fitur yang lebih lengkap pada awal Januari tahun depan). Intinya, Nintendo tampak ingin menggabungkan lini konsol dan handheld-nya dalam satu perangkat, dan Switch diposisikan sebagai gawai pamungkas yang akan menyatukan kelebihan konsol dan fleksibilitas handheld.

Sebagai seorang gamer yang konsol terakhirnya adalah Playstation 2 (itupun arguably saya hanya numpang main di konsol adik saya), saya inginnya melihat perkembangan terbaru ini sebatas sebagai pengamat saja; Bagaimanapun Nintendo, Sony, atau Microsoft bersaing, tetap kecil kemungkinannya bagi saya untuk membeli salah satu dari konsol terbaru mereka bertiga. Di sisi lain, titik lemah saya adalah narasi underdog, cerita-cerita mengenai mereka yang diremehkan tapi -melampaui segala perkiraan- muncul sebagai pemenang. Dan Nintendo adalah contoh underdog yang sempurna sejak dekade yang lalu.

 The Wii Effect

Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, Nintendo Gamecube adalah konsol yang sedang sekarat. Playstation 2 menguasai pasar, dan bahkan Microsoft si pendatang baru malah relatif lebih sukses dengan XBox-nya. Ketika Sony dan Microsoft kemudian mengumumkan Playstation 3 dan XBox 360, banyak yang mengabaikan Nintendo dan mengira posisi mereka tak akan beranjak. Barulah saat Nintendo mengumumkan Wii dengan Wiimote-nya yang revolusioner, orang-orang merasa Nintendo bisa membuat perubahan. Benar saja, pada akhirnya Wii laris manis -terutama di kalangan non-gamer– dibanding konsol lain.

Tapi itu sepuluh tahun yang lalu. Lanskap gaming sudah berubah banyak. Penerus Wii, Nintendo WiiU, gagal melanjutkan kesuksesan pendahulunya. Kepopuleran Wii di kalangan gamer kasual terbukti hanya trend sesaat, dan trend terbarunya adalah mobile gaming, bukan konsol atau handheld. Sementara itu, controller yang ‘lain sendiri’ serta hardware yang kurang bertenaga membuat Wii dan WiiU tidak begitu dilirik penerbit game multiplatform besar seperti EA, Ubisoft atau Activision. Ketiadaan game-game multiplatform populer yang umum dirilis di Playstation dan XBox ini pada akhirnya membuat konsol Nintendo juga menjadi tidak begitu menarik di mata para gamer yang lebih hardcore.

Dan sampailah kita pada Switch: Usaha Nintendo yang ketiga untuk terus berinovasi di tengah pesaingnya yang lebih banyak mengandalkan teknologi dan kekuatan hardware. Banyak yang merasa Switch, alih-alih mengulangi kesuksesan Wii, hanya akan melanjutkan kegagalan WiiU. Portabilitas Switch dianggap hanya gimmick belaka, dan kekuatan hardware-nya… yah, memang sampai saat ini belum ada spesifikasi resmi mengenai isi perut Switch, tapi banyak yang meragukan sekuat apa hardware yang bisa dijejalkan ke dalam Switch ketika ia juga harus berkompromi dengan harga dan daya baterai.

Pada akhirnya, saya bersimpati dengan Nintendo yang saat ini harus membuktikan banyak hal. Mereka harus berjuang keras meyakinkan konsumennya, para gamer, bahwa Switch lebih dari sekedar Wii generasi ketiga. Mengandalkan eksklusivitas lini game-game bikinan Nintendo sendiripun kini sudah tidak menjadi jaminan, mengingat mereka mulai melirik-lirik pasar mobile. Mungkin yang lebih penting adalah meyakinkan para penerbit besar bahwa konsol terbaru mereka ini sudah pantas didatangi Grand Theft Auto atau Final Fantasy terbaru.

Ilustrasi: Nintendo.com

Iklan