Saya ingin mengaku dosa: Saya tidak pernah memainkan satupun game Legend of Zelda. Bukannya tidak pernah menyentuhnya sama sekali sih. Saya ingat pernah mencobanya di Nintendo GBA dan DS, tapi hanya sekitar satu-dua jam pertama sebelum saya kehilangan minat dan beralih ke game lain. Jadi rasanya akan menarik kalau saya memutuskan untuk memainkan Anodyne, sebuah game zelda-clone indie, tanpa banyak harapan atau tuntutan akan seperti apa seharusnya sebuah game yang ingin meniru gameplay-nya Legend of Zelda.

anodyne2

Cerita Anodyne sebenarnya agak kabur. Yang saya tahu hanyalah karakter saya bernama Young, dan ia dipanggil oleh sosok berjubah misterius untuk menyelamatkan dunia dari kuasa jahat yang disebut Briar. Terdengar lugas dan sederhana, tapi sepanjang game saya bertemu sejumlah karakter yang mengucapkan hal-hal yang semakin kriptik. Saya sih sebenarnya tak masalah dengan cerita yang ambigu, tapi bahkan sampai klimakspun saya masih belum mendapatkan gambaran yang memuaskan mengenai apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh game ini. Ada beberapa interpretasi yang beredar di internet, tapi ketidakjelasan cerita Anodyne cuma membuat semua alternatif itu sama validnya.

Di sisi lain, cerita yang agak wagu ini membuat Anodyne lebih bebas dalam membangun dunianya. Berbeda dengan Hyrule yang lebih logis dan konsisten, dunia Anodyne lebih liar dan surreal. Di awal game saya menelusuri dungeon bawah tanah yang tipikal seperti game-game aksi-petualangan fantasi lainnya, tapi beberapa jam kemudian saya sudah mengunjungi alam bawah laut yang penuh darah, apartemen terbengkalai, kota suburban monokromatik, sirkus penuh jebakan mematikan, dan luar angkasa yang dihuni oleh makhluk-makhluk kubus. Beberapa area memang lebih kecil dibanding yang lain, tapi tetap saja jumlah yang begitu bervariasi itu membuat saya tidak merasa cepat bosan karena melihat grafik semak-semak yang itu-itu saja. Ini juga didukung oleh musik setiap area yang cocok dengan setting-nya dan ikut membangun suasana yang dreamy dan misterius.

anodyne3

Untuk gameplay-nya, saya ingin mengatakan bahwa Anodyne berhasil menyeimbangkan antara kesederhanaan dan keragaman. Tak ada sejumlah senjata atau peralatan berbeda yang harus diperoleh sepanjang game; Dari awal sampai akhir Young hanya memiliki satu senjata dan satu kemampuan, yaitu sebuah sapu dan kebisaan melompat. Ini membuat pertarungan dalam Anodyne bukan perkara yang rumit – dalam separuh game pertama, sebagian besar musuh yang saya temui mati dalam satu pukulan. Tapi mengalahkan musuh memang bukan poin utama gameplay Anodyne.

Yang persisten menjadi ‘musuh’ dalam Anodyne adalah rintangan yang terus-menerus dihadirkan oleh lingkungan yang tak bersahabat. Salah satu contohnya adalah sebuah ruangan dengan satu pintu yang tertutup di ujungnya. Pintu itu baru terbuka jika dua switch di tempat terpisah diinjak bersamaan. Hanya ada saya dan satu musuh lain di ruangan itu – dan saya harus memancing musuh untuk pergi menginjak switch itu sementara Young menginjak switch lainnya. Ini hanya satu contoh sederhana di awal game; Setiap dungeon baru setelahnya akan mengenalkan musuh baru dan elemen lingkungan baru yang menciptakan teka-teki yang semakin sulit. Terkadang saking sulitnya sampai saya rasanya ingin stop bermain saja dan melanjutkan ke game lain (lihat addendum #Tamatkan12), untungnya dengan sedikit kegigihan saya akhirnya bisa menamatkan game ini.

Iklan