Hal pertama yang membuat saya meng-install Escape Goat di laptop saya adalah ukuran file-nya yang cukup kecil. Sekitar 100 MB. Alasan yang konyol memang, tapi itulah dorongan sederhana yang diperlukan untuk mencoba game puzzle platformer yang kelihatannya menarik ini. Padahal genre-nya bisa dibilang adalah konflik minat bagi saya. Saya bisa betah berjam-jam memutar otak untuk memecahkan puzzle yang diberikan sebuah game, tapi saya paling tidak tahan untuk terus-menerus gagal menyelesaikannya karena melompat terlalu lama, terlalu cepat, kurang tinggi, atau terlalu tinggi. Tak ada yang lebih membuat frustrasi mengenai genre ini selain solusi yang sudah terang benderang, tapi kemampuan refleks saya tidak mumpuni untuk mengeksekusinya.

Escape Goat adalah game yang seperti itu. Sebagai kambing tak bernama, yang bisa saya lakukan untuk membuka pintu yang terkunci dan menyelamatkan para domba hanyalah melompat (dengan kemampuan double jump), nyeruduk balok, atau mengutus sahabat tikusnya yang bisa masuk ke tempat-tempat sempit. Ada sekitar 50 lebih ruangan yang harus saya lewati, dan banyak di antaranya berisi gergaji putar yang menjalari lantai, dinding, dan langit-langit, atau sejumlah malaikat maut yang gemar melontarkan bola api setiap kali melihat saya. Dan selama 50 lebih level itu, tak ada power up, level up, atau kemampuan permanen baru yang bisa saya raih; Dari awal sampai akhir, saya hanya bisa mengandalkan nalar untuk menemukan rencana keluar, dan refleks di saat yang tepat untuk menjalankan rencana tersebut.

Untuk ukuran seorang gamer yang refleksnya tak sebaik waktu muda dulu, Escape Goat terasa cukup imbang tingkat kesulitannya. Setiap ruangan dirancang untuk bisa diselesaikan dalam hitungan menit saja, jadi tak ada level yang pemecahannya terlalu kompleks atau membutuhkan rangkaian eksekusi yang panjang. Ada beberapa bagian platforming-nya yang membuat frustrasi, tapi pada akhirnya bisa saya atasi setelah satu dua hari tidak memainkan game ini. Saya juga suka dengan keputusan game ini untuk membagi sebagian besar ruangannya dalam 9 grup yang berbeda (dengan suasana tematik yang beragam pula), sehingga jika saya sedang frustrasi dengan satu level tertentu, saya bisa keluar dan mencoba grup ruangan lain untuk mendapat pergantian suasana dan tantangan yang jenisnya berbeda.

Escape Goat bukanlah game yang panjang. 50 lebih level utama bisa saya selesaikan dalam waktu 3.5 jam, padahal saya termasuk gamer yang lelet; Bahkan ada achievement untuk menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 45 menit. Tapi setelah menamatkannya dan credit title selesai bergulir, game ini memberikan bonus dungeon baru berisi 30 lebih level yang tingkat kesulitannya lebih brutal. Saya sempat mencoba mencicipi masing-masing level pertama dari 4 grup level yang baru ini, dan siksaannya memang tidak main-main. Tapi cukuplah saya selesaikan level utamanya saja untuk memasukkan Escape Goat ke tantangan #Tamatkan12, karena saya tak ingin kesan positif mengenai game ini ternodai oleh level-level tambahan yang muskil saya tamatkan.

Iklan