Satu lagi pengakuan dosa: Saya tidak pernah mengikuti film-film Ghibli. Bukannya tidak pernah menonton sama sekali sih; Ada satu yang pernah saya tonton, yaitu The Cat Returns (2002). Kenapa itu yang saya tonton, dan bukannya Spirited Away yang hanya baru rilis setahun sebelumnya? Seingat saya karena… cuma itu satu-satunya film Ghibli yang tersedia di pojok lapak DVD anime bajakan di sebuah event jejepangan. Film itu, meski lumayan bagus, tidak meninggalkan kesan mendalam bagi saya, sehingga akhirnya sayapun jadi tidak begitu berminat mencari-cari film-film Ghibli yang lainnya.

Syukurlah lima belas tahun kemudian kebetulan ada acara untuk meluruskan kekhilafan ini. World of Ghibli Jakarta adalah rangkaian ‘tur’ film-film klasik Studio Ghibli di 45 layar bioskop di 17 kota di Indonesia; Di bulan ini, mereka memulainya dengan screening Spirited Away dari tanggal 1-7 April. Mengingat bahwa film ini bagi banyak penonton dan kritikus adalah film anime terbaik sepanjang masa, maka kelihatannya saya sudah tak punya alasan lagi untuk mencoba kembali menonton film-film Ghibli, dimulai dari Spirited Away.

Spirited Away berkisah tentang Chihiro, anak perempuan biasa yang nyasar ke dunia makhluk halus dan harus menyelamatkan ayah ibunya yang disihir jadi babi. Saya suka film ini tidak berlama-lama dengan prolog yang berkepanjangan. Cukup menit-menit pertama yang memberi konteks Chihiro yang sebal campur sedih karena harus pindah rumah; Karena ayahnya salah ambil jalan, akhirnya mereka tak sadar masuk ke daerah yang dikuasai Yubaba, penyihir setempat yang mengelola tempat wisata (dengan pemandian tradisional sebagai atraksi utamanya) untuk para makhluk halus se-Jepang yang ingin bersantai.

Kini saya paham mengapa banyak orang menyukai Spirited Away. Sepanjang dua jam saya ikut tersesat bersama Chihiro dalam dunia antah berantah yang asing. Saya bisa bersedih dengan kesendiriannya, dan ingin ikut menyemangati Chihiro dalam petualangannya. Saya lega ketika ia mendapat teman dan mulai diterima oleh para makhluk halus lain, dan saya ikut kuatir bersamanya ketika orang terdekatnya mendapat musibah. Tokoh ABG berumur sepuluh tahun di film-film lain biasanya jadi menjengkelkan, tapi karakterisasi yang kuat dari film ini berhasil membuat Chihiro mendapat simpati dan dukungan saya.

Dari segi teknis, Spirited Away juga bersinar. Animasinya sangat halus dan detail, bahkan untuk elemen-elemen kecil di pinggiran layar yang sedang tidak jadi fokus utama. Palet warna pastel yang adem di mata turut mengangkat mood saya sepanjang film ini, dan di layar bioskop semuanya tampak begitu jernih dan tajam (apa yang tayang sekarang sudah melewati proses remaster ya?) sehingga tak terasa kalau ini film lawas yang umurnya sebentar lagi sudah bisa bikin KTP. Turut andil dalam membangun atmosfer yang penuh emosional di Spirited Away adalah soundtrack yang dibawakan oleh Joe Hisaishi. Mendengar bahwa ia rutin mengisi musik film-film Ghibli lainnya membuat saya semakin tak sabar untuk menonton My Neighbor Totoro yang dijadwalkan akan tayang screening bulan depan.

Ilustrasi: Spirited Away Trailer – Youtube

Iklan