Saya selalu tertarik dengan klub sepulang sekolah di Jepang yang digambarkan di media populer. Dibandingkan dengan aktivitas ekstrakurikuler yang pernah saya alami, kegiatan mereka terlihat begitu hidup dan bersemangat. Tentu juga membantu cerita bahwa yang diangkat seringkali juga adalah klub yang aneh-aneh (dengan anggota yang tak kalah nyentriknya), seperti klub minum teh, klub pakaian dalam, klub tank, atau – seperti dalam satu game yang baru saya tamatkan – klub komedi.

Cherry Tree High Comedy Club, seperti judulnya, berkisah tentang sebuah klub komedi di SMA Cherry Tree; Lebih tepatnya, tentang bagaimana Mairu Hibisu – tokoh utama game ini – mencoba mengaktifkan kembali klub legendaris yang sudah lama mati itu. Salah satu syarat yang harus ia penuhi adalah kuota minimal 5 anggota pendiri, dan syarat itu harus ia penuhi dalam waktu 1 bulan. Saat ini hanya ada 2 anggota – Mairu sendiri dan teman sekamarnya, Hoemi – sehingga Mairu harus mencari dan menemukan setidaknya 3 murid SMA lain yang bersedia untuk menjadi anggota.

Dalam CTHCC, ada total 6 kandidat murid lain yang bisa diyakinkan untuk bergabung dengan klub komedi. Untuk meyakinkan mereka, Mairu harus menaikkan level pertemanan mereka dari level 1 ke level 5. Caranya menaikkan level pertemanan ini adalah dengan mengajak mereka ngobrol dalam 12 bidang percakapan yang berbeda, mulai dari video game hingga memasak; Efektivitas tiap percakapan bisa bervariasi, tergantung dari bidang tertentu yang disukai atau dibenci masing-masing karakter dan level kemampuan Mairu sendiri. Untuk meningkatkan level kemampuannya di satu bidang, Mairu bisa membeli majalah, membaca di perpustakaan sekolah, menonton TV, atau menghadiri seminar di hari-hari tertentu.

Yang menjadi tantangan dari game ini adalah manajemen waktunya yang ketat. Mairu hanya punya waktu kurang lebih 1 bulan untuk memenuhi targetnya membujuk minimum 3 orang murid, sementara satu hari hanya terbagi dalam 3 segmen: Pagi, siang, dan malam. Satu kali bercakap-cakap dengan seorang target murid akan menghabiskan waktu satu segmen, begitu juga dengan satu aktivitas untuk meningkatkan level kemampuan percakapan; Untuk melakukan aktivitas tertentu (seperti membeli majalah atau menghadiri seminar), Mairu juga membutuhkan uang – kerja sambilan untuk mendapatkan uang, lagi-lagi, juga akan menghabiskan satu segmen. Ini belum lagi memperhitungkan faktor kelelahan; Tanpa istirahat, terlalu lelah bisa membuat evektivitas kegiatan Mairu berkurang, bahkan bisa membuat dia pingsan (yang lagi-lagi akan membuang waktu satu segmen).

Dengan gameplay semacam itu, CTHCC seharusnya bisa memikat perhatian saya. Sayangnya ada dua kekurangan besar yang membuat saya hampir meninggalkan game ini di tengah-tengah. Yang pertama adalah mekanismenya yang kurang transparan. Berapa kali percakapan yang diperlukan untuk menaikkan level pertemanan? Bagaimana level kemampuan Mairu mempengaruhi efektivitas percakapannya? Aktivitas apa yang paling efektif untuk meningkatkan level kemampuan Mairu? Game ini tidak memberikan parameter yang jelas sehingga saya lebih banyak menduga dan mencoba-coba. Di akhir game saya masih bisa merekrut minimum 3 orang murid untuk menghindari bad ending, tapi untuk merekrut keenam kandidat demi mendapat ending yang sempurna, pemain yang berdedikasi tampaknya harus membaca panduan di internet atau memainkan new game+ beberapa kali.

Kekurangan lainnya adalah CTHCC, untuk ukuran sebuah visual novel, sangat ringan dalam cerita dan pengembangan karakter. Setiap karakter sehari-harinya hanya mengucapkan satu baris kalimat generik yang khas seperti NPC RPG pada umumnya; Dialog yang lebih panjang dan substansial hanya terjadi ketika level pertemanan Mairu dengan kandidat murid tersebut meningkat; Jadi satu karakter hanya mendapat maksimum 5 scene untuk mendalami karakter mereka, dan buat saya itu masih lebih jauh dari cukup. Hal lain yang bagi lebih fatal dari cerita CTHCC adalah Mairu, sebagai karakter utama, sangat tidak lucu; Ada beberapa dialog yang mengandung pun, memang, tapi secara keseluruhan game ini sangat kering dari humor yang benar-benar menggelitik. Saya sampai tergoda untuk dengan sengaja mengakhiri CTHCC dengan bad ending karena game ini terasa tidak pantas menyandang judulnya sendiri.

Iklan