Setelah bulan lalu menonton Spirited Away (2001), saya jadi berharap banyak pada kualitas film animasi studio Ghibli. Maka saya agak bingung juga kenapa World of Ghibli justru meletakkan film yang dirilis tahun 1988 ini (13 tahun sebelum Spirited Away!) di urutan penayangan kedua; Seandainya My Neighbor Totoro diputar pertama dalam rangkaian festival film Ghibli, mungkin penonton yang awam bisa lebih mengapresiasi peningkatan kualitas animasinya.

Mau tak mau memang saya jadinya dengan tidak adil membandingkan animasi film ini dengan Spirited Away. Seperti film itu, Totoro juga mengandalkan warna-warni pastel yang hangat dan bisa menggambarkan daerah pedesaan Jepang yang masih tradisional dan alami. Tapi dibandingkan dengan Spirited Away, Totoro terasa lebih statis dan tidak terlalu halus animasinya – yah, masih tergolong cukup bagus lah, mengingat ini adalah film era 80-an akhir dan merupakan film kedua dari Studio Ghibli yang didirikan tahun 1985.

Untungnya ada hal-hal lain yang tak lekang oleh perjalanan waktu, dan itu adalah imajinasi Hayao Miyazaki yang brilian. Totoro berkisah tentang Satsuki dan Mei, dua anak yang baru pindah ke desa bersama ayahnya agar lebih dekat dengan ibu mereka yang sedang dirawat di rumah sakit. ‘Bertetangga’ dengan sebuah pohon tua yang dikeramatkan, di sana kakak beradik itu bertemu dengan Totoro, makhluk besar berbulu nan aneh yang nampaknya adalah penunggu pohon itu (mungkin lingkungan sekitarnya juga).

Lagi-lagi di sini saya jatuh cinta dengan bagaimana Miyazaki membentuk tokoh-tokoh ceritanya. Karakter Satsuki dan Mei, juga ayah mereka, digambarkan dengan begitu genki dan carefree, nyaris tanpa beban, dan mengandung sejumput idealisme ala Jepang yang ingin saya contoh untuk keluarga saya; Saya suka dengan Satsuki dan Mei yang pemberani dan penuh rasa ingin tahu, juga dengan ayah mereka yang ngemong dan menerima celotehan anak-anaknya yang terdengar fantastis. Biarpun begitu, mereka tidak menjadi karakter yang sempurna tapi membosankan; Miyazaki dengan cermat memberi percikan emosi di momen-momen tertentu secara efektif, sehingga saya bisa merasakan kekuatiran, ketakutan, dan kehilangan yang dialami tokoh-tokohnya.

Hal lain yang juga berbeda dari Totoro adalah alur berceritanya yang relatif tidak begitu terstruktur dibandingkan dengan Spirited Away. Dalam film ini tak ada tokoh antagonis, tak ada konflik besar, dan tak ada motivasi yang menuntun perjalanan para tokoh kita dari awal hingga akhir film. Dua pertiga pertama dari 90 menit Totoro ‘hanyalah’ petualangan lepas Satsuki dan Mei dalam menjelajahi lingkungan barunya dan berkenalan dengan orang (juga makhluk) baru; Baru di sepertiga bagian terakhir ada sedikit kisah personal mengenai kecemasan kedua kakak beradik itu karena ibu mereka masih belum bisa pulang ke rumah. Saya pribadi suka dengan genre slice of life, dan potret kehidupan yang diberikan Miyazaki di film ini begitu indah sehingga cerita tidak terlalu dibutuhkan untuk menikmatinya.

Ilustrasi: FilmLinc.org

Iklan