Saya benci kegelapan total. Di saat indera pengelihatan tidak bisa lagi diandalkan, mencemaskan rasanya ketika harus menjelajah sebuah tempat hanya dengan berbekalkan indera peraba dan daya ingat ruang saya; Kecemasannya jadi dobel ketika tempat itu tidak familiar sama sekali sehingga saya tidak tahu barang-barang apa saja di dalamnya yang bisa menjadi penghalang jalan saya – atau ada makhluk apa saja yang bersembunyi dalam gelap dan siap mencabik-cabik saya.

Perasaan inilah yang dengan sempurna ditimbulkan Dark Echo (2015) ketika saya memainkannya. Saya – seorang karakter tak bernama dan tak berrupa – berada di dalam sebuah labirin yang gelap, dan satu-satunya representasi saya di layar adalah sepasang jejak kaki. Dengan sepasang kaki itulah saya harus menjelajahi 40 level game ini untuk menemukan jalan keluar – setiap ketukan kaki saya akan menimbulkan gema yang memantul di dinding, lubang tak berdasar, genangan air, dan berbagai halang rintang lainnya. Tapi saya juga harus berhati-hati, karena di sebagian besar level ada pula makhluk-makhluk buas yang sangat peka terhadap suara dan siap untuk memakan saya jika langkah saya terdengar oleh mereka.

Pilihan art style yang unik inilah yang membuat saya tertarik memainkan Dark Echo. Sederhana, tapi berhasil menyampaikan elemen yang esensial hanya dengan perbedaan warna. Gema yang saya timbulkan divisualisasikan dalam garis-garis putih yang menyebar dari kaki saya dan akan memantul jika mengenai dinding. Garis-garis putih itu akan berubah warna jika melewati hal-hal lain, seperti merah (lubang atau perangkap), kuning (switch), atau biru (genangan air). Jika saya sedang apes dan ada makhluk yang mendengar langkah kaki saya, mereka juga akan mengeluarkan garis gema berwarna merah ketika bergerak.

Elemen gameplay berkaitan dengan visualisasi gema ini cukup beragam dan disampaikan satu per satu dengan perlahan. Di level-level awal, tugas saya hanya menimbulkan gema untuk memetakan labirin dan menemukan pintu ke level selanjutnya; Cukup mudah dan hanya memakan waktu 1-2 menit saja. Pada level-level lanjutan, saya diperkenalkan dengan switch yang harus diinjak untuk membuka pintu ke ruangan lain, genangan air yang membuat lari saya lebih lambat dan gema kaki lebih kuat, dan musuh yang memburu mengikuti gema suara. Kemampuan karakter saya juga bertambah, seperti menciptakan gema yang lebih keras, berjalan mengendap-endap untuk meminimalisasi gema, atau melemparkan batu sehingga menciptakan gema yang jauh dari saya untuk mengalihkan perhatian musuh.

Semakin kompleksnya gameplay di level-level lanjutan membuat saya cukup nervous ketika memainkan Dark Echo. Setiap level bisa menghabiskan lebih dari 5 menit, dan tanpa checkpoint atau save game, saya harus berhati-hati mengarungi labirin karena kesalahan kecil saja berarti saya harus mengulang dari awal level; Seringkali saya hanya sanggup memainkan dua atau tiga level dalam sekali sesi bermain sebelum harus menenangkan diri. Level-level yang lebih rumit ini biasanya menawarkan kombinasi antara kecepatan refleks dan kemampuan memecahkan puzzle sederhana; Tidak ada yang benar-benar susah, tapi variasinya membuat saya tidak pernah bosan atau merasa game ini mulai repetitif.

Iklan