Semenjak Your Name, saya jadi lebih tertarik untuk melihat film anime apa saja yang muncul di bioskop-bioskop setempat. Selain ingin mendukung usaha distributor lokal yang sudah mengambil risiko membawa film niche ke sini, saya juga ingin mengenang kembali masa-masa remaja dulu ketika saya masih getol mengikuti anime…dan nonton satu-dua jam di bioskop adalah cara yang mudah saat ini bagi saya ketimbang berburu torrent dan meluangkan waktu untuk menonton 26 episode serial anime. Dalam konteks ini saya berkeinginan menonton A Silent Voice (2016), meski pengetahuan saya mengenainya hanya sebatas sinopsis yang diberikan di situs bioskop.

A Silent Voice berkisah mengenai Shouya Ishida, seorang siswa SMA yang ingin menebus masa lalunya. Sewaktu SD, ia dan teman-temannya pernah mem-bully seorang anak pindahan yang tuli bernama Shouko Nishimiya. Shouko di-bully begitu parah sampai ia akhirnya pindah, dan Shouya-lah yang menjadi kambing hitam seisi sekolah sehingga ia dikucilkan. Shouya menjadi penyendiri dan penuh rasa bersalah hingga SMA; Ketika ia tak sengaja bertemu kembali dengan Shouko, ia mencoba kembali menjalin pertemanan dengannya, dan juga dengan (mantan) teman-teman masa SD yang dulu meninggalkannya.

Tadinya saya kira A Silent Voice akan jadi film dengan cerita yang gampang ditebak: Mungkin Shouko awalnya menolak menemui Shouya, tapi usaha gigih Shouya lama kelamaan meluluhkan hatinya, dan di ujung film mereka berdua pacaran. Tidak sesederhana itu; Shouko yang memang pemaaf (dan mungkin terlalu pemaaf) bahkan langsung menerima ajakan persahabatan Shouya dalam setengah jam pertama film. Tapi film ini menunjukkan bahwa luka lama yang begitu mendalam tidak bisa serta merta sembuh dengan sendirinya, dan situasi menjadi semakin rumit ketika teman-teman masa SD mereka berdua – yang ikut mem-bully Shouko dan kemudian ganti mengucilkan Shouya – masuk dalam cerita.

Yang lebih mengejutkan saya dari A Silent Voice adalah ceritanya yang gelap dan para karakternya yang brutal. Meski secara visual film ini cukup warna-warni dan ada beberapa adegan (juga karakter) yang komedik, film ini juga tak tanggung-tanggung dalam menggambarkan bagaimana kejamnya tindakan bullying yang dilakukan Shouya dan kawan-kawannya, juga betapa jahat efeknya pada Shouko dan semua orang yang terlibat, bahkan sampai setelah bertahun-tahun berlalu. Ditambah dengan sejumlah karakter yang begitu culas bahkan hingga akhir film, saya kira tidak berlebihan jika istri saya (yang ikut menonton) menyimpulkan bahwa A Silent Voice adalah film yang ‘depresif’.

Tapi bukan itu yang menjadi masalah dari A Silent Voice. Yang mengganjal di benak saya sepanjang menonton film ini adalah ceritanya yang terasa tidak rapi. Alurnya banyak melompat-lompat dengan beberapa subplot yang menumpuk satu sama lain dengan berantakan; Satu lagi masalah masuk sementara masalah yang lain belum terselesaikan (dan bahkan sampai akhir film tidak selesai), atau tiba-tiba ada konflik padahal pencetusnya tidak terlalu jelas digambarkan seperti apa. Berkaitan dengan ini juga adalah beberapa karakter yang terkesan penting tapi tidak melakukan apapun yang bermakna, atau karakter lama yang muncul kembali tapi tidak ada efek lanjutannya pada cerita.

Barulah setelah saya riset sedikit untuk menuliskan resensi ini, saya baru tahu kalau film A Silent Voice ini adalah adaptasi dari serial komik dengan 7 jilid cerita. Oalah, pantesan ada yang aneh. Tampaknya si penulis skenario mencoba memasukkan semua subplot dan karakter lalu memampatkannya dalam film berdurasi 120 menit. Sayang usahanya tidak begitu berhasil dalam membuat cerita film yang koheren, dan mungkin kesalahan juga ada pada produser yang sejak awal memutuskan untuk mengadaptasi serial komiknya menjadi sebuah film; Padahal mungkin akan lebih bagus untuk cerita yang ingin disampaikan kalau mereka setidaknya membuat miniseri anime dengan, katakanlah, 6 episode.

Ilustrasi: Colourless Opinions

Iklan