Seharusnya saya menuliskan satu resensi untuk #Tamatkan12 bulan lalu; Bahkan di bulan lalu, saya sebenarnya memainkan dua game untuk tantangan itu – satu untuk bulan Juni dan satu untuk bulan ini. 

Tapi semuanya berubah ketika saya punya laptop baru. Latar belakang dan proses punya laptop baru ini mungkin nanti akan dijabarkan lebih detail di tulisan tersendiri, tapi intinya: Sekarang saya punya laptop budget baru yang relatif lebih mumpuni dibanding pendahulunya. Tentu saja saya jadi tergoda untuk mengetes kemampuan laptop baru ini dengan mencoba game yang sebelumnya terasa tidak mungkin dimainkan di laptop yang lama.

Salahnya saya adalah memilih Skyrim sebagai percobaannya. Ya, ini bukan game yang baru-baru amat sebenarnya, tapi statusnya sebagai open world RPG membuat saya penasaran ingin melihat bagaimana lanskapnya ditampilkan di laptop baru ini. Lagipula, di laptop sebelumnya mungkin saya sudah menghabiskan total lima ratus jam lebih untuk memainkan Fallout 3, Oblivion, dan Fallout: New Vegas, jadi pas-lah memainkan Skyrim di laptop baru ini dan membandingkan dengan game-game Bethesda sebelumnya.

BTW, angka lima ratus jam lebih itu baru saya hitung tadi dengan melongok di profil Steam saya, dengan rincian 226 jam (Oblivion), 186 jam (Fallout 3), dan 180 jam (New Vegas); Ah, seandainya saya lihat itu dulu waktu pertama kali meng-install game ini. Sekarang saya baru sadar akan titik lemah saya akan genre ini: Sangat adiktif dan memakan waktu! Untuk Skyrim, saat ini saya sudah mencapai angka 61 jam, dan kira-kira saya baru menyentuh 20 sampai 30 persen kontennya. Kalau saya ingin menamatkan game ini 100 persen, mungkin saya bisa menghabiskan sampai 300 jam lebih untuk game ini.

Bukan masalah banyak waktunya sih… tapi bagaimana dengan resolusi #Tamatkan12 saya? Sejak memainkan Skyrim, pikiran saya tidak bisa beralih kepada game lain. Seluruh atensi gamer saya difokuskan pada game ini: Riset mengenai mod yang wajib dipakai, bagaimana membangun karakter yang optimal, atau tips menaikkan level skill dan mencari uang. Dua game yang tadinya saya mainkan untuk #Tamatkan12 jadinya terabaikan begitu saja, dan niat saya untuk meneruskan tantangan ini benar-benar berada di titik nadir.

Tapi… bukankah ini esensi menjadi seorang gamer sebenarnya? Bermain bukan hanya karena kewajiban, komitmen, atau rutinitas, tapi bersemangat main karena memang ada sesuatu yang exciting untuk dinanti-nantikan?

Ilustrasi: Elder Scrolls Wikia – Skyrim

Iklan