Cari

The Playing Man

A geekier side of me

Tag

budaya

Di era 80-90an, membawa game Jepang ke belahan bumi barat tidak sekedar menerjemahkan teksnya ke dalam bahasa Inggris (atau bahasa Eropa lainnya) saja, tapi ada elemen-elemen cerita atau visual yang harus disesuaikan dengan budaya, norma, dan selera lokal. Blog Legends of Localization membahas detail mengenai seluk beluk kompromi mengenai ini.

Iklan

Fetish (apa ini istilah yang akurat?) lolicon ikut disinggung setelah kelompok pedofil Indonesia yang bersarang di Facebook diciduk oleh polisi. Apakah lolicon hanya preferensi seksual yang tidak berbahaya, atau satu perwujudan dari kecenderungan seksis laten sehingga pantas disematkan label pseudo-pedofil? Simak satu perspektif dari Mario Rustan di Magdalene.co ini.

Dengan barang mahal yang masih dianggap sebagai domain anak kecil, pehobi mainan dan action figure sering harus berhati-hati dalam menampilkan koleksi mereka di mata masyarakat, terutama lingkungan sekitar. Seorang pehobi menuliskan refleksinya mengenai kecenderungan ngumpet-ngumpet dan bohong (terutama soal harga) ketika beli mainan.

Arab Saudi bukanlah negara yang pertama kali terlintas dalam pikiran ketika mendengar istilah “Comic Con”. Toh nyatanya komunitas penggemar komik, anime, dan game tumbuh subur di negara ini. Tahun ini sebuah EO lokal di sana dengan berani mengadakan konvensi budaya pop pertama di Saudi secara terbuka meski mendapat tentangan dari sejumlah pihak.

Meski pembajakan secara legal dan etika tidak dapat dibenarkan, tapi di negara-negara tertentu ia bisa menjadi saluran positif bagi anak-anak. Waypoint menceritakan mengenai masa kecil seorang Syiah di Arab Saudi, di mana bermain game (bajakan) menjadi semacam penghiburan dan perekat persahabatan di negara yang penuh diskriminasi dan prasangka keagamaan itu.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑